Posts

Showing posts from March, 2019

Obat Tradisional Pengusir Demam Anak

Image
بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم
Sedikit pengetahuan bagi para orangtua yang memiliki putra putri yang masih bayi atau balita. Inilah beberapa pilihan obat penurun panas atau Demam secara tradisional yang dapat dicoba. Penting diperhatikan, dosis yang tercantum pada ramuan berikut adalah dosis untuk orang dewasa. Bila ingin diberikan kepada anak, bacalah aturan dosis bagi anak dan sesuaikan dengan tingkatan usianya. (Lihat : Dosis Aman untuk Anak)
Aneka Obat Tradisional Penurun Panas / Demam
1. Lempuyang Emprit (Zingiber amaricans) 
Memiliki kandungan senyawa minyak atsiri, yaitu sekuiterpenketon yang bermanfaat untuk menurunkan panas. Umumnya yang digunakan adalah rimpangnya; warnanya putih kekuningan dan rasanya pahit.  Caranya: Cuci bersih 10 gram umbi lempuyang emprit. Parut dan tambahkan 1/2 gelas air panas, aduk rata. Setelah dingin, peras, ambil sarinya. Campur dengan 2 sendok makan (sdm) madu bunga kapuk, aduk rata. Berikan 3 kali sehari. 

Hakekat Puasa Ramadhan

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم
Sahabat saudaraku fillah, yang di Rahmati oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala Bulan Ramadhan merupakan bulan yang mempunyai banyak keistimewaan yang tidak dimiliki oleh sebelas bulan lainnya.

Salah satu keistimewaan bulan Ramadan adalah diwajibkannya shaum/puasa di bulan ini, bagi orang-orang yang beriman,shaum yang secara sederhana dapat kita artikan ‘Menahan Diri”. yaitu menahan diri dari hal-hal yang membatalkannya dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari.

Yang dimaksud membatalkan shaum di sini bukan hanya mengurangi nilai ibadahnya akan tetapi juga mencakup hal-hal yang membatalkan hakikat, tujuan dan membatalkan pahalanya. Kalau shaum dimaknai hanya menahan diri dari yang membatalkan ibadahnya secara syar’i, maka hal ini tidak seberat ketika dimaknai menahan diri segala yang membatalkan hakikat, tujuan dan pahala shaum.

Keutamaan Bulan Ramadhan

Image
بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم
Keutamaan bulan Ramadhan diantaranya :

1. Ramadhan bulan Al-Qur’an

Allah Ta’ala berfirman, “Bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al-Qur'an.” (Al-Baqarah:185). Firman Allah Ta’ala “Unzila fiihil Qur’an” mengandung beberapa makna :
Turunnya Al-Qur’an dari Lauhil Mahfuzh ke langit dunia sebagaimana menurut Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhu. Atau Allah menurunkan permulaan Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad shallallahu‘alaihi wasallam pada bulan Ramadhan karena Al-Qur'an pertama kali diturunkan pada malam Lailatul Qadar, sedang Lailatul Qadar ada pada bulan Ramadhan. Menurut pendapat lain yakni bulan diturunkannya Al-Qur’an yang memuji bulan Ramadhan, menyanjungnya, men-jelaskan keutamaannya dan mewajibkan puasa di dalamnya. Maksud yang paling kuat dalam hal ini adalah makna yang pertama, kemudian makna yang kedua.

Manfaat Puasa Bagi Kesehatan

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم
Puasa bukan sekedar kegiatan umat muslim tetapi lebih dari itu, yang memberikan efek luar biasa terhadap kesehatan tubuh. jika disertai dengan diet yang benar akan mendapatkan manfaat dari puasa yang lebih maksimal.
Kesehatan merupakan nikmat yang tidak dapat dinilai dengan harta benda. Untuk menjaga kesehatan, tubuh perlu diberikan kesempatan untuk istirahat. Puasa, yang mensyaratkan untuk tidak makan, minum, dan melakukan perbuatan-perbuatan lain yang membatalkan puasa dari terbitnya fajar hingga terbenamnya matahari sangat bermanfaat untuk menjaga kesehatan jasmani dan rohani.
Puasa dapat mencegah penyakit yang timbul karena pola makan yang berlebihan. Makanan yang berlebihan gizi belum tentu baik untuk kesehatan seseorang. Kelebihan gizi atau overnutrisi mengakibatkan kegemukan yang dapat menimbulkan penyakit degeneratif seperti kolesterol dan trigliserida tinggi, jantung koroner, kencing manis (diabetes mellitus), dan lain-lain.

Melempar Jumrah Uulaa Wustha dan Aqabah

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم
Melempar Jumrah Pada Hari Tasyriq
عَنِ ابْنِ عُمَرَ رض اَنَّهُ كَانَ يَرْمِى اْلجَمْرَةَ الدُّنْيَا بِسَبْعِ حَصَيَاتٍ يُكَبّرُ عَلَى اِثْرِ كُلّ حَصَاةٍ ثُمَّ يَتَقَدَّمُ حَتَّى يُسْهِلَ فَيَقُوْمَ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ فَيَقُوْمُ طَوِيْلاً وَ يَدْعُوْ وَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ ثُمَّ يَرْمِي اْلوُسْطَى ثُمَّ يَأْخُذُ ذَاتَ الشّمَالِ فَيَسْتَهِلُ وَ يَقُوْمُ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ فَيَقُوْمُ طَوِيْلاً وَ يَدْعُوْ وَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ وَ يَقُوْمُ طَوِيْلاً ثُمَّ يَرْمِي جَمْرَةَ ذَاتِ اْلعَقَبَةِ مِنْ بَطْنِ اْلوَادِي وَ لاَ يَقِفُ عِنْدَهَا ثُمَّ يَنْصَرِفُ فَيَقُوْلُ هكَذَا رَاَيْتُ النَّبِيَّ ص يَفْعَلُهُ. البخارى 2: 194 Dari Ibnu Umar, RA bahwasanya dahulu ia melempar jumrah yang dekat (jumrah Uulaa) dengan tujuh kerikil, dan bertakbir pada setiap kali lemparan, kemudian maju sehingga bertempat di tanah yang datar, lalu berdiri dan menghadap kiblat, lalu berdiri lama, dia berdoa sambil mengangkat kedua tangannya. Kemudian ia melempar jumrah w…