Posts

Secangkir Ilmu Paham

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ 
Secangkir Ilmu Paham
Tingkat terbawah dalam ilmu itu adalah “Paham”. Ini wilayah kejernihan logika berfikir dan kerendahan hati. Ilmu tidak membutakannya, malah menjadikannya kaya. 
Tingkat ke dua terbawah adalah “Kurang Paham”. Orang kurang paham akan terus belajar sampai dia paham, dia akan terus bertanya untuk mendapatkan simpul - simpul pemahaman yang benar.
Naik setingkat lagi adalah mereka yang “Salah Paham”. Salah paham itu biasanya karena emosi dikedepankan, sehingga dia tidak sempat berfikir jernih. Dan ketika mereka akhirnya paham, mereka biasanya meminta maaf atas kesalah-pahamannya. Jika tidak, dia akan naik ke tingkat tertinggi dari ilmu.

Kisah Guru Teladan

بِسْمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحْمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
Kisah Pak Guru Hamid
Pak Hamid duduk termangu. Dipandanginya benda-benda yang berjajar di depannya dengan masygul. Bertahun-tahun dimilikinya dengan penuh kebanggaan.
Dirawat dengan baik hingga selalu bersih dan mengkilap. Jika ada orang yang bertanya, Pak Hamid akan bercerita dengan penuh kebanggaan.
Siapa yang tidak bangga memiliki benda-benda itu? Berbagai plakat penghargaan yang diterimanya selama 35 tahun pengabdiannya sebagai guru di daerah terpencil. Daerah terisolasi yang tidak diminati oleh guru-guru yang lain.

Rezeki Kita Sudah Ditetapkan

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم


Rahasia Besar Rezeki


Seorang pria berkebangsaan Inggris dikontrak oleh Bin Dawood (salah satu departemen store terkemuka di Saudi Arabia) sebagai regional manager untuk menangani salah satu cabang supermarket mereka di Makkah. Pria ini memiliki pengalaman yang baik sebagai manager di sejumlah pusat perbelanjaan baik di Inggris, Malaysia, dan Cina. Setelah tinggal dan bekerja beberapa lama di Saudi, pria itu kemudian menceritakan betapa aneh, unik dan inspiratifnya orang-orang menjalankan bisnis di Saudi.

Tawaf Ifadah Nabi Muhammad Saw ke Mekah

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم
Nabi Muhammad Saw ke Mekah untuk Thawaf Ifadlah
عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص اَفَاضَ يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ رَجَعَ فَصَلَّى الظُّهْرَ بِمِنًى. قَالَ نَافِعٌ فَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يُفِيْضُ يَوْمَ النَّحْرِ ثُمَّ يَرْجِعُ فَيُصَلّي الظُّهْرَ بِمِنًى وَ يَذْكُرُ اَنَّ النَّبِيَّ ص فَعَلَهُ. مسلم 2: 950 Dari Ibnu ‘Umar, bahwasanya Rasulullah SAW thawaf ifadlah pada hari nahr, kemudian kembali (ke Mina), lalu shalat Dhuhur di Mina. Nafi’ berkata, “Adalah Ibnu ‘Umar thawaf ifadlah pada hari Nahr, lalu kembali, maka ia shalat Dhuhur di Mina, dan ia mengatakan bahwasanya Nabi SAW dahulu melakukan yang demikian itu”. [HR. Muslim juz 2, hal. 950, no. 335]