Posts

Dakwah Yang Mencerahkan

Agama yg dibawa para Rasul adlh pencerah alam, penyelamat umat. Agama hadir utk menyingkap kegelapan yg menutup jiwa, membuka jalan dan membangun keyakinan akan kebenaran, kebaikan hakiki.
Nabi Muhammad selama 23 tahun mampu mengubah wajah peradaban dunia dg dakwah. Dakwah yg cerah dan mencerahkan. Memahamkan yg belum paham, menyederhanakan ilmu yg rumit menjadi mudah diterima dan diamalkan. 
Saat ini, kegiatan dakwah sangat semarak di tengah2 umat. Kemajuan teknologi memudahkan kita mengakses ilmu dari para ulama. Rasul adalah cahaya, ulama adalah pemantul cahaya. Pertanyaannya mengapa banyak dan maraknya pengajian, makin mengerikan pula kemerosotan moral anak bangsa. Ataukah kita yg tdk memahami makna dakwah.

Menerima Kebenaran

Merasa paling benar, bisa menjadi penyakit berbahaya yg menyerang jasmani dan ruhani. Mata akan buta, telinga menjadi tuli dan hati menjadi tertutup. Tidak akan mau menerima kebenaran di luar dirinya. Cermin yg dibelah, dibanting pecah berkeping2 bila buruk rupa/ wajahnya.
Merasa paling benar, menjadikan orang jauh dari sikap tasamuh/ toleran, rendah hati dan saling hormat/menghargai. Untuk mempertahankan pendapatnya, mereka akan menghakimi pihak2 yg berbeda dg kehinaan dan kerendahan.

Ketaqwaan Kepada Allah

Agama diturunkan Allah kepada kita, supaya jelas hidup kita dari kegelapan dan cahaya terang. Manusia diberikan kebebasan untuk berpikir, berbuat dan berbicara. Namun manusia tidak sanggup lepas dari kuasa Tuhan.
Termasuk kuasa Allah adalah membuat perjanjian dgn manusia. Perjanjian saat ruh ditiupkan dalam janin manusia. Berjanji mengakui sepenuh jiwa akan konsep Rububiyah, Allahlah yg paling berkuasa atas kehidupan kita dan memberikan kuasaNYA utk kita dengan keharusan mendekat kepadaNYA. "Qoluu balaa syahidnaa", itulah jawaban awal kita tentang perjanjian dengan Tuhan. Maknanya adalah sebagai manusia kita tidak akan komplain, mencari alasan, gampang menyerah/ putus asa dan menyesal hadir di dunia dengan segala aneka pernik kehidupan di dalamnya. (Lihat QS. AlA'raaf; 172)

Mendidik Anak

Hidup adalah perjalanan. Ada orang yang hidupnya lurus-lurus saja, ada pula yang perjalanan hidupnya berliku-liku. Ada kehidupan bagaikan sungai yang manfaatnya luas. Hadir juga yang seperti kanal, laju hidupnya pelan tapi dalam. Bahkan banyak yang lalu lintas kehidupannya keruh, seperti dalam gorong-gorong.
Sungguh Allah-lah pemilik sekaligus pengatur lalu lintas perjalanan kehidupan manusia. Perjalanan dari Tuhan, menuju Tuhan. Inilah perjalanan pulang-pergi, Innaa liLlahi wa innaa ilaihi raaji'uun.
Saat menatap anak-anak kita, pernahkah terpikir tentang harapan yang tertuju untuk perjalanan kehidupan kita. Adakah keyakinan bahwa anak-anak kita akan memberikan kebahagiaan.

Taubat Kepada Allah Swt

Manusia adalah makhluk mulia, diciptakan dengan sangat sempurna. Manusia mampu membedakan mana yang baik dan buruk, mana yang mulia dan hina serta mana yang halal dan haram. Manusia mendapat karunia terbaik berupa akal, kejiwaan dan berkomunikasi supaya tidak sesat jalan hidupnya.
Manusia diberikan kebebasan berkehendak 'iradat' atau karsa. Manusia bukanlah budak hawa nafsu, tetapi pandu yang bisa mengatur hawa nafsu meraih kemuliaan. Pilihan hidup manusia bersumber dari jiwanya. Bila bersih jiwanya maka kemuliaanlah yang hadir, namun bila kotor jiwanya maka kebusukanlah yang nampak.