Hoax dan Berita Kotor

Kultum Ramadhan Hari Ke tujuh

Kultum Ramadhan hari ke tujuh hoax dan berita kotor
Hoax dan Berita Kotor
Agama mendidik manusia hidup berdasar hukum, norma dan etika kebaikan menuju kemuliaan empati, tujuannya jelas: amal konstruktif dan efektif, terselamatkan dari berbagai isu murahan, hoax dan berita kotor.
Berita kotor itu akan memalingkan kita dari segala urusan yang mulia, sehingga sulit diharapkan manfaatnya. Jiwa yang keluar dari norma kebaikan menjadikan seluruh waktunya sia-sia, hari-harinya kacau dan hidupnya hampa tidak bermutu.

Membahayakan, bukan memberi manfaat; merusak, bukan membangun; mencoreng rekam jejak pelakunya dengan memperlihatkan skandal dirinya, mereka tampil dengan tampilan seronok, tutur kata yang kotor dan perilaku yang memalukan, atau ketika dirinya dalam pose yang menjijikkan pada pandangan orang-orang bermartabat. Mereka melakukan pelecehan terhadap dirinya,  keluarganya, agamanya, dan bangsanya sendiri.

Manusia yang mengurusi berita-berita murahan itu, memuja hawa nafsunya mengotori hatinya dengan berbagai perbuatan maksiat, mengendur ibadah karena dosa, lalu tumbang fitrah-nya.

“Seluruh umatku akan diampuni dosanya kecuali orang-orang yang mempertontonkan kemaksiatannya. Termasuk di antaranya ialah seseorang yang telah melakukan perbuatan dosa di malam hari, dan Allah telah menutupi skandalnya itu. Namun keesokan harinya ia lalu berkata : ‘Wahai Si A, semalam aku telah melakukan ini dan itu’, padahal semalam Allah telah menutupi skandalnya, tetapi dirinya sendiri di pagi hari membongkar apa yang telah dirahasiakan oleh Allah itu”. HR Bukhari.

Menaruh perhatian terhadap hoax dan berita kotor dan mengikuti langkah mereka yang suka meng"copas" dapat mendorong kita menyematkan ketenaran di pundak mereka, membuat mereka percaya diri tampil di panggung, padahal mereka itu kerdil; dapat memotivasi mereka menjadi populer lantaran promosi yang kita lakukan terhadap sepak terjang mereka yang memalukan dan menghancurkan moral.

Lebih parah lagi manakala kaum penyebar hoax-berita kotor terbuai oleh popularitas diri mereka lalu berani memasuki persoalan yang bukan bidang mereka, berbicara tentang ilmu yang bukan kapasitas mereka; ada yang memandang remeh, suka mengoyak harga diri pejabat pemerintah; dan ada pula yang meremehkan peran ulama’, para dai dan penuntut Ilmu.

Mencintai popularitas merupakan penyakit yang akan menyeretnya untuk membenarkan segala cara akibat hatinya telah tertutup kabut egoisme hingga tak mampu melihat cahaya kebenaran. Itulah sebabnya, agama melarang memburu popularitas, bisa menghapus pahala amal kebajikan. 

Saudaraku,  ada pesan Nabi, "Rasa malu dan iman itu terikat menjadi satu. Jika yang satu hilang maka yang lain pun akan menghilang.” Cara menjaga diri dari hoax dan berita kotor adalah selalu merasakan kehadiran Allah yang melindunginya dari pandangan, pendengaran, perkataan dan pergaulan yang tidak bermakna. Demikian pula dengan merasa selalu dalam pengawasanNya. Itulah yang membuat hamba senantiasa tersambung dengan keagungan Allah sehingga konsepsi tentang popularitas dan superioritas dapat teratasi. Sebab neraca akhirat tidaklah sama dengan neraca dunia.

Ya Allah kemi mohon perlindungan atas murkaMU saat kebohongan, kedustaan, pornografi dan pornoaksi menjadi primadona masyarakat kami.... !
Aamiin.

Allahu a'lamu bishowab. 

Tren Blog

Hadits Tentang Larangan Berbuat Zina

Hadits Tentang Shalat (Kewajiban Shalat)

Hadits Tentang Aqiqah

Hadits Tentang Khitan

Syarat Menjadi Imam Dalam Shalat Berjama'ah