Featured Post

Keluarga Bahagia dan Ikhlas Bahagia

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم Betapa banyak orang yang kesepian di tengah hiruk pikuk keramaian bukan karena tak punya keluarga, sahabat atau handai taulan. Namun kurang baiknya hubungan dengan mereka, ada jarak, sekat hati yang memisahkan karena atas nama harga diri, ego, rasa malu ataupun individualisme yang dominan di kota-kota besar. Ada orang - orang shaleh yang namanya diabadikan dalam kitab suci. Allah memuliakan keluarga Imron dan keluarga Ibrahim, demikian pula 'ayah' Luqman bersama anak-anaknya dalam nasehat kebaikan yang terbaik.

Tentang Susuan Yang Menjadi Mahram

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Yang Menjadikan Mahram Susuan

عَنْ اُمِّ اْلفَضْلِ اَنَّ رَجُلاً سَأَلَ النَّبِيَّ ص اَ تُحَرِّمُ اْلمَصَّةُ؟ فَقَالَ: لاَ تُحَرِّمُ الرَّضْعَةُ وَ الرَّضْعَتَانِ، وَ اْلمَصَّةُ وَ اْلمَصَّتَانِ. احمد و مسلم
Dari Ummu Fadlil, bahwa sesungguhnya ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, “Apakah sekali hisapan itu dapat menjadikan mahram?”. Nabi SAW menjawab, “Tidak dapat menjadikan mahram sekali susuan dan dua kali susuan, sekali hisapan dan dua kali hisapan”. [HR. Ahmad dan Muslim]

عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: لاَ تُحَرِّمُ اْلمَصَّةُ وَ لاَ اْلمَصَّتَانِ. الجماعة الا البخارى
Dari ‘Aisyah RA, bahwa sesungguhnya Nabi SAW bersabda, “Sekali hisapan dan dua kali hisapan itu tidak menjadikan mahram”. [HR. Jama’ah kecuali Bukhari]


و فى رواية قالت: دَخَلَ اَعْرَابِيٌّ عَلَى النَّبِيِّ ص وَ هُوَ فِى بَيْتِى، فَقَالَ: يَا نَبِيَّ اللهِ، اِنِّى كَانَتْ لِى امْرَأَةٌ فَتَزَوَّجْتُ عَلَيْهَا اُخْرَى، فَزَعَمَتِ امْرَأَتِى اْلاُوْلَى اَنَّهَا اَرْضَعَتِ امْرَأَتِى اْلحُدْثَى رَضْعَةً اَوْ رَضْعَتَيْنِ. فَقَالَ النَّبِيُّ ص: لاَ تُحَرِّمُ اْلاِمْلاَجَةُ وَ لاَ اْلاِمْلاَجَتَانِ. احمد و مسلم
Dan dalam satu riwayat (dikatakan), ‘Aisyah berkata : Seorang ‘Arab gunung masuk ke tempat Nabi SAW, sedang Nabi SAW berada di rumahku. Lalu ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya aku mempunyai seorang istri, kemudian aku menikah lagi dengan seorang perempuan lain, tetapi istriku yang pertama itu merasa pernah menyusui istriku yang kedua ini sekali atau dua kali susuan”. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Tidak dapat menjadikan mahram, sekali hisapan dan tidak (pula) dua kali hisapan”. [HR. Ahmad dan Muslim].

عَنْ عَائِشَةَ رض اَنَّ رِسُوْلَ اللهِ ص اَمَرَ امْرَأَةَ اَبِى حُذَيْفَةَ فَاَرْضَعَتْ سَالِمًا خَمْسَ رَضَعَاتٍ. وَ كَانَ يَدْخُلُ عَلَيْهَا بِتِلْكَ الرَّضَاعَةِ. احمد
Dari ‘Aisyah RA, bahwasanya Rasulullah SAW pernah menyuruh istri Abu Hudzaifah (supaya menyusui Salim) maka Salim ia susui sebanyak lima kali susuan. Dan Salim keluar-masuk rumahnya sebab penyusuan tersebut. [HR. Ahmad].

و فى رواية اَنَّ اَبَا حُذَيْفَةَ تَبَنَّى سَالِمًا وَ هُوَ مَوْلًى ِلامْرَأَةٍ مِنَ اْلاَنْصَارِ، كَمَا تَبَنَّى النَّبِيُّ ص زَيْدًا. وَ كَانَ مَنْ تَبَنَّى رَجُلاً فِى اْلجَاهِلِيَّةِ دَعَاهُ النَّاسُ ابْنَهُ وَ وَرِثَ مِيْرَاثَهُ حَتَّى اَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ اُدْعُوْهُمْ ِلآبَائِهِمْ هُوَ اَقْسَطُ عِنْدَ اللهِ فَاِنْ لَمْ تَعْلَمُوْا آبَاءَهُمْ فَاِخْوَانُكُمْ فِى الدّيْنِ وَ مَوَالِيْكُمْ. فَرُدُّوْا اِلَى آبَائِهِمْ. فَمَنْ لَمْ يُعْلَمْ لَهُ اَبٌ. فَمَوْلىً وَ اَخٌ فِى الدِّيْنِ. فَجَاءَتْ سَهْلَةُ فَقَالَتْ: يَا رَسُوْلَ اللهِ، كُنَّا نَرَى سَالِمًا وَلَدًا يَأْوِى مَعِى وَ مَعَ اَبِى حُذَيْفَةَ وَ يَرَانِى فُضْلَى وَ قَدْ اَنْزَلَ اللهُ عَزَّ وَ جَلَّ فِيْهِمْ مَا قَدْ عَلِمْتَ، فَقَالَ: اَرْضِعِيْهِ خَمْسَ رَضَعَاتٍ. فَكَانَ بِمَنْزِلَةِ وَلَدِهِ مِنَ الرَّضَاعَةِ. ملك فى الموطأ و احمد
Dan dalam satu riwayat lain (dikatakan) : Sesungguhnya Abu Hudzaifah mengangkat Salim (sebagai anak angkatnya), sedang Salim adalah bekas hamba seorang perempuan Anshar, sebagaimana Nabi SAW mengangkat Zaid. Di jaman jahiliyah orang laki-laki yang dijadikan anak angkat, maka orang-orang menganggap dan memanggilnya sebagai anaknya dan dia mewarisi hartanya, sehingga Allah ‘Azza wa Jalla menurunkan (ayat) [Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka. Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. (QS. Al-Ahzaab : 5)]. Kemudian mereka dikembalikan kepada ayah-ayah mereka, maka bagi yang tidak diketahui siapa ayahnya (dianggap sebagai) maula dan saudara seagama. Kemudian datanglah Sahlah, lalu ia bertanya, “Ya Rasulullah, kami memandang Salim sebagai anak yang ikut hidup bersamaku dan bersama Abu Hudzaifah, ia masuk (rumah kami) dan melihatku tidak berkudung (di rumah), padahal Allah telah menurunkan (ayat) kepada mereka sebagaimana telah engkau ketahui, yang demikian itu bagaimana?”. Kemudian Nabi SAW bersabda, “Susuilah ia lima kali susuan. Dengan begitu, maka (menjadilah Salim) berstatus sebagai anak susuan”. [HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ dan Ahmad].

Keterangan :
Dari hadits-hadits diatas bisa diambil kesimpulan bahwa menyusu yang bisa menjadikan sebagai anak susu itu paling sedikit adalah lima kali susuan.
وَ اللهُ اَعْلُمُ

Baca ini juga tentang Menyusui Orang Dewasa dan bagaimana hukumnya?

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

Tren Blog

Hadits Tentang Khitan

Fadlilah Dzikir Laa Ilaaha Illallaah

Hukum Musik Dan Nyanyian Dalam Islam

Perintah Orang Tua Yang Tidak Boleh Ditaati

Shalat Sunnah Thahur

Blog Populer

Hadits Tentang Larangan Berbuat Zina

Hadits Tentang Shalat (Kewajiban Shalat)

Hadits Tentang Khitan