Lebaran Haji

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم
Takbir

اَللهُ اَكْبَرُ اَللهُ اَكْبَرُ، لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَ اللهُ اَكْبَرُ،اَللهُ اَكْبَرُ وَ ِللهِ اْلحَمْدُ. فى نيل الاوطار 3 :358، فقه السنة 1: 275
(Allaahu Akbar, Allaahu Akbar, Laa ilaaha illallaahu wallaahu Akbar Allaahu Akbar wa lillaahil-hamdu). Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tidak ada Tuhan (yang sebenarnya) melainkan Allah, dan Allah Maha Besar. Allah Maha Besar dan kepunyaan Allah-lah segala pujian. [Dalam Nailul Authar juz 3 hal. 358, Fiqhus Sunnah juz 1 hal. 275]

Alhamdulillah, kemarin saudara-saudara kita yang berada di tanah haram sudah melaksanakan puncak ibadah haji, wukuf di Arafah. Menjelang maghrib para jamaah haji bersiap-siap menuju Muzdalifah, Masy’aril Haram. Bermalam dan mengambil batu untuk melontar jumrah.

Melantukan bacaan takbir bersahut-sahutan penuh kesyahduan dan tak putus mengagungkan asma-NYA. Tidak ada nama yang maha indah kecuali nama-NYA Tidak ada yang maha agung kecuali Keagungan-NYA.

Agama adalah ketaatan, Hari itu Nabi Ibrahim mendapatkan pesan yang sangat jelas untuk menyembelih putra terkasihnya. Beliau taat, pasrah tak ada keraguan untuk mengikut jalan ketakwaan. 

Penyembelihan itu tak membuat takut, khawatir akan bagian dunianya. Keyakinan atas janji kenikmatan membuat bahagia dalam pengorbanan. Nabi Ibrahim dibalas pujian yang kekal dalam kitab suci. 

Taat menyembelih "anak" tak membuat kehilangan anak dan dunia, Allah Swt bahkan tambahkan anugerah anak lagi yang sholeh dan cerdas, Ishaq namanya beserta ribuan binatang ternak bagi Nabi Ibrahim. Nabi Ibrahim tauladan pengqurbanan terbesar, Nabi Ismail contoh nyata  keikhlasan, kepasrahan dan ketaatan. 

Ibadah penyembelihan kurban juga ada aspek ijtima'iyah, kemasyarakatan. Pembagian daging kurban untuk kaum fakir miskin dapat mengembangkan jiwa pendekatan antar sesama umat manusia. Tujuan amal nyata untuk mewujudkan keadilan sosial, masyarakat sejahtera dengan saling menolong dan peduli.

Nabi pernah menyampaikan kata-kata halus, tajam dan jelas. Beliau akan mengisolasi mereka yang tak mau berkurban, sedang keadaan cukup untuk menyembelih binatang kurban. Sikap mental tak mau berkurban dianggap kufur nikmat, yaitu tidak mensyukuri nikmat yang dianugerahkan Allah SWT.

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحّ فَلاَ يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّناَ. احمد 3: 207، رقم: 8280
Dari Abu Hurairah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang mempunyai kemampuan untuk berqurban tetapi tidak mau melaksanakannya, maka janganlah ia dekat-dekat ke tempat shalat kami”. [HR. Ahmad juz 3, hal. 207, no. 8280].

Kurban dari bahasa Arab "qaraba" (قرب) artinya dekat, maka seorang yang melakukan penyembelihan kurban berarti ia mendekatkan dirinya kepada Allah SWT, taqarrub ilallah.

Inilah hari napak tilas perjalanan keluarga Nabi Ibrahim melawan setan demi menunaikan perintah Allah. Setan saat itu berusaha menghalangi kepatuhan keluarga Nabi Ibrahim, menyembelih anak tercintanya karena Allah semata. 

Setan tak berhasil menggoda Nabi Ibrahim beralih pada Hajar. Ibunda Ismail pun tak bergeming, tetap setia mendukung suaminya menjalankan perintah Allah. Pintu terakhir setan adalah Ismail sang buah hati Ibrahim dan Hajar. Ismail pun sebagaimana ayah dan bundanya bersikukuh menjalankan perintah Allah SWT. Melontar jumrah di Mina adalah kisah abadi dalam ritual ibadah haji hari-hari ini. 

Keteladanan sangat indah dimana ayah, ibu dan anak memiliki visi dan misi yang sama didalam melawan setan yang terus berusaha merusak keimanan, kepatuhan, dan ketaatan mereka kepada Allah SWT.

Wallahu a'lamu bishawab.

(Ust. M. Iqbal - Uniba)

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

Tren Blog

Hadits Tentang Larangan Berbuat Zina

Hadits Tentang Shalat (Kewajiban Shalat)

Hadits Tentang Khitan