Hijrah - Awal Penanggalan Tahun Hijriah

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Peristiwa Hijrah Nabi yang dijadikan tanda bagi penanggalan awal tahun hijriah, tentulah sarat dengan nilai - nilai yang mampu mengantarkan kita kepada kebahagiaan duniawi dan ukhrawi. Hijrah adalah perpindahan Nabi bersama sahabat - sahabatnya dari Mekkah menuju Madinah, saat 13 tahun dari masa kenabiannya.

Meninggalkan kampung kemusyrikan menuju kampung keimanan, dalam rangka melakukan pembinaan dan pendirian masyarakat madani yang sebenar - benarnya. Meninggalkan tempat, keadaan, atau sifat yang tidak baik, menuju yang baik meraih ridho-NYA.

Tiga puluh satu kali Al Qur'an mengulang kata hijrah dalam segala bentuk jadiannya. Kata hijrah digandengkan dengan kata jihad. Hal ini menunjukkan bahwa tujuan hijrah sangat bergantung pada sejauh mana dan sebesar apa semangat kejuangan kita. Hijrah itu membutuhkan jihad dan niat yang benar karena Allah SWT.

"Tidak ada lagi hijrah setelah kemenangan (Makkah) akan tetapi yang tetap ada adalah jihad dan niat. Maka jika kalian diperintahkan berangkat berjihad, berangkatlah" (HR Bukhari).

Hijraturrasul mendidik kita untuk mencapai kesuksesan besar itu memerlukan pengorbanan besar pula. Perencanaan dan persiapan yang matang dan strategis itulah kunci keberhasilan suatu program.

Mempersiapkan kendaraan, yang dilakukan Abu Bakar, penetapan rute perjalanan yang tak biasa dilalui dengan dipandu ahlinya, persiapan kelangsungan perbekalan oleh putri - putri Abu Bakar (Aisyah dan Asma), penugasan informan untuk mengetahui gerak - gerik lawan dan menghilangkan jejak unta oleh ‘Amir dan Fuhairah, dan pengelabuan yang dilakukan oleh Ali bin Abi Tholib di rumah Nabi, ke semuanya menunjukkan upaya manusia dalam ikhtiar yang sempurna.

Hadirnya seekor burung merpati yang sedang mengeram dan munculnya sarang laba - laba di pintu gua Tsur adalah bala tentara-NYA sebagai puncak pertolongan Allah saat ikhtiar sempurna sudah ditempuh.

اِلَّا تَنْصُرُوْهُ فَقَدْ نَصَرَهُ اللّٰهُ اِذْ اَخْرَجَهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا ثَانِيَ اثْنَيْنِ اِذْ هُمَا فِى الْغَارِ اِذْ يَقُوْلُ لِصَاحِبِهٖ لَا تَحْزَنْ اِنَّ اللّٰهَ مَعَنَاۚ فَاَنْزَلَ اللّٰهُ سَكِيْنَتَهٗ عَلَيْهِ وَاَيَّدَهٗ بِجُنُوْدٍ لَّمْ تَرَوْهَا وَجَعَلَ كَلِمَةَ الَّذِيْنَ كَفَرُوا السُّفْلٰىۗ وَكَلِمَةُ اللّٰهِ هِيَ الْعُلْيَاۗ وَاللّٰهُ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ
Jika kamu tidak menolongnya (Nabi Muhammad), sungguh Allah telah menolongnya, (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah), sedangkan dia salah satu dari dua orang, ketika keduanya berada dalam gua, ketika dia berkata kepada sahabatnya, “Janganlah engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita.” Maka, Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Nabi Muhammad), memperkuatnya dengan bala tentara (malaikat) yang tidak kamu lihat, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu seruan yang paling rendah. (Sebaliknya,) firman Allah itulah yang paling tinggi. Allah Maha perkasa lagi Maha bijaksana. (QS. At-Taubah : 40).

Wallahu a'lamu bishawab.

(Ust. M. Iqbal - Uniba)

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

Tren Blog

Hadits Tentang Larangan Berbuat Zina

Hadits Tentang Shalat (Kewajiban Shalat)

Hadits Tentang Khitan