Puasa dan Makan

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Bahagia bisa kembali bertemu dengan Ramadhan. Inilah bulan kemuliaan, saat Allah SWT akan mengendalikan kita melalui syariah / aturan puasa. Puasa adalah bukti cintaNYA kepada kita; supaya kita memiliki kesadaran terhadap keberadaanNYA dan melahirkan perilaku akhlak mulia.

Kita bisa berbohong kepada orang lain dengan status "sedang berpuasa". Berpura-pura lemas dan memanfaatkan puasa utk membenarkan kemalasan kita. Namun tidak bisa berbohong dengan Tuhan. karena firmanNYA,"Puasa itu bagiKU dan AKU-lah yang akan membalasnya.."(Hadits Qudsi).

Ramadhan dengan ilmu puasa mengajarkan kita tentang hakikat makan. Mendidik kemampuan membuat jarak antara makan dan nafsu. Sungguh sayang bahasan kita tentang Ramadhan hanyalah seputar menu sahur dan berbuka puasa saja.
Berpuasa menjadikan kita memahami kebutuhan makan hanya saat kita merasakan lapar. Itulah kenikmatan orang makan saat menyertakan lauk terbaik rasa lapar.

Sungguh menyedihkan menyaksikan betapa banyak saudara-saudara kita yg tak berhenti makan padahal sudah tidak lapar. Bahkan banyak diantara mereka yang tak mengerti bagaimana menghentikan aktifitas makan padahal perut sudah terasa sangat kekenyangan.

Puasa itu dalam bahasa Arab disebut "shiyam/ shoum" yang berarti menahan diri dari rasa tamak, sifat rakus; ingin berkuasa atas yang lain dan keinginan memiliki semua yg dimiliki orang lain.

Saudaraku,

Manfaatkanlah bulan puasa ini sebagai upaya untuk menahan diri dari sifat tamak dan kehendak yang mementingkan diri sendiri. Jauhi sifat culas, curang dan semua kerakusan yang bertentangan dengan akhlak mulia.

Ada pesan penting Nabi tentang ilmu makan. Rasulullah shallallahi ‘alaihi wa sallam bersabda,

ما ملأ آدميٌّ وعاءً شرًّا من بطن، بحسب ابن آدم أكلات يُقمن صلبَه، فإن كان لا محالة، فثُلثٌ لطعامه، وثلثٌ لشرابه، وثلثٌ لنفَسِه
“Tidaklah anak Adam memenuhi wadah yang lebih buruk dari perut. Cukuplah bagi anak Adam memakan beberapa suapan untuk menegakkan punggungnya. Namun jika ia harus (melebihinya), hendaknya sepertiga perutnya (diisi) untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas” (HR. Tirmidzi)

Imam Asy-Syafi’i rahimahullah menjelaskan,

لان الشبع يثقل البدن، ويقسي القلب، ويزيل الفطنة، ويجلب النوم، ويضعف عن العبادة
“Karena kekenyangan membuat badan menjadi berat, hati menjadi keras, menghilangkan kecerdasan, membuat sering tidur dan lemah untuk beribadah”.

Allahu a'lamu bishowab

1 Ramadhan 1440H

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

Tren Blog

Hadits Tentang Larangan Berbuat Zina

Hadits Tentang Shalat (Kewajiban Shalat)

Hadits Tentang Aqiqah

Hadits Tentang Khitan

Syarat Menjadi Imam Dalam Shalat Berjama'ah