Menerima Kebenaran

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Merasa paling benar, bisa menjadi penyakit berbahaya yang menyerang jasmani dan ruhani. Mata akan buta, telinga menjadi tuli dan hati menjadi tertutup. Tidak akan mau menerima kebenaran di luar dirinya. Cermin yang dibelah, dibanting pecah berkeping-keping bila buruk rupa / wajahnya.

Merasa paling benar, menjadikan orang jauh dari sikap tasamuh / toleran, rendah hati dan saling hormat / menghargai. Untuk mempertahankan pendapatnya, mereka akan menghakimi pihak-pihak yang berbeda dengan kehinaan dan kerendahan.

Kita semua adalah saudara. Tugas sesama saudara adalah mengingatkan saudaranya yang lain saat belum tahu jalan. Mengingatkan dengan nasehat yang baik, beritahu jalan kebenaran.
Alhamdulillah, apabila saudara kita menerima nasehat kita. Apabila mereka menolak; itu haknya. Kita tak berhak memaksanya bahkan dalam urusan beragama. Laa ikraha fiddiin 

لَآ إِكۡرَاهَ فِي ٱلدِّينِۖ قَد تَّبَيَّنَ ٱلرُّشۡدُ مِنَ ٱلۡغَيِّۚ فَمَن يَكۡفُرۡ بِٱلطَّٰغُوتِ وَيُؤۡمِنۢ بِٱللَّهِ فَقَدِ ٱسۡتَمۡسَكَ بِٱلۡعُرۡوَةِ ٱلۡوُثۡقَىٰ لَا ٱنفِصَامَ لَهَاۗ وَٱللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ 
Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS AlBaqoroh 256)

Jangan pernah bermimpi dengan membayangkan seluruh manusia meyakini dan mengikuti kebenaran. Kita tidak pernah tahu dengan pasti isi hati seseorang, kita hanya mampu melihat dan mencoba memahami perilaku yang dipermukaan.

Keadaan hati dan perilaku manusia bisa terus berubah-ubah, bahkan dalam hitungan detik. Kita sulit untuk mengukur kekuatan iman yang ada pada diri sendiri apalagi menilai keimanan orang lain. 

وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ لَجَعَلَكُمۡ أُمَّةٗ وَٰحِدَةٗ وَلَٰكِن يُضِلُّ مَن يَشَآءُ وَيَهۡدِي مَن يَشَآءُۚ وَلَتُسۡ‍َٔلُنَّ عَمَّا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ 
Dan kalau Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja), tetapi Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan sesungguhnya kamu akan ditanya tentang apa yang telah kamu kerjakan. (QS An Nahl 93)

Kita tak akan mampu memberi petunjuk kepada siapa yang kita inginkan, Allah-lah pemilik otoritas itu. Tugas kita yang beramal dan menyampaikan kebenaran.

Saudaraku,

Sibukkan diri kita untuk melihat wajah sendiri. Segera sempurnakan yang masih 'belepotan' dan banyak kelemahan.

Jujur kita masih jauh dari "kebenaran", karena cenderung lebih mencintai politikus, artis-atlet, karier, anak-istri, mobil-rumah yang melebihi cinta kita kepada Allah dan RasulNYA.

Allahu a'lamu bishowab

MATIQ " Insan Qur'ani"
12 Ramadhan 1440H

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

Tren Blog

Hadits Tentang Larangan Berbuat Zina

Hadits Tentang Shalat (Kewajiban Shalat)

Hadits Tentang Aqiqah

Hadits Tentang Khitan

Syarat Menjadi Imam Dalam Shalat Berjama'ah