Ingat Mati

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un...
Telah berpulang ke Rahmat Allah ulama kita Ustadz Arifin Ilham. In syaa Allah beliau husnul khotimah. Demikian berita WA yang saya terima pagi ini. Setiap membaca berita kematian, jiwa ini selalu membayangkan nama yang meninggal itu nama saya.

Apakah jiwa anda juga merasakan apa yang saya rasakan? Kita tidak bisa mengendalikan laju jiwa ini. Allah-lah yang memegang jiwa orang ketika kematiannya, waktu tidurnya. Dia pula yang menahan jiwa orang yang telah ditetapkan kematiannya dan DIA melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan.

ٱللَّهُ يَتَوَفَّى ٱلۡأَنفُسَ حِينَ مَوۡتِهَا وَٱلَّتِي لَمۡ تَمُتۡ فِي مَنَامِهَاۖ فَيُمۡسِكُ ٱلَّتِي قَضَىٰ عَلَيۡهَا ٱلۡمَوۡتَ وَيُرۡسِلُ ٱلۡأُخۡرَىٰٓ إِلَىٰٓ أَجَلٖ مُّسَمًّىۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَأٓيَٰتٖ لِّقَوۡمٖ يَتَفَكَّرُونَ  
Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditetapkan. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berfikir. (QS Az Zumar 42)

Ternyata kita tak bisa mengendalikan jiwa kita, semua dalam satu poros kendali, Allah SWT. Saat ada kesadaran, jiwa ini selalu terpaut denganNYA, walaupun sering mengalami gangguan sinyal karena tertutup hawa nafsu yang diperturutkan.

Awal penciptaan manusia dalam keadaan mati, kemudian ditiupkan ruhNYA dalam jasad. Setelah hidup beberapa babak, sesuai ketentuanNYA dimatikan kita dan dihidupkan kembali untuk kembali kepadaNYA.

كَيۡفَ تَكۡفُرُونَ بِٱللَّهِ وَكُنتُمۡ أَمۡوَٰتٗا فَأَحۡيَٰكُمۡۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمۡ ثُمَّ يُحۡيِيكُمۡ ثُمَّ إِلَيۡهِ تُرۡجَعُونَ  
Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS Al Baqoroh 28)

Hidup ternyata tidak hanya sekali di dunia saja. Dunia hanyalah babak pendahuluan. Kehidupan sejati adalah setelah kematian di dunia. Durasi hidup di dunia singkat, penuh permainan dan sering melalaikan.

ٱعۡلَمُوٓاْ أَنَّمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَا لَعِبٞ وَلَهۡوٞ وَزِينَةٞ وَتَفَاخُرُۢ بَيۡنَكُمۡ وَتَكَاثُرٞ فِي ٱلۡأَمۡوَٰلِ وَٱلۡأَوۡلَٰدِۖ كَمَثَلِ غَيۡثٍ أَعۡجَبَ ٱلۡكُفَّارَ نَبَاتُهُۥ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَىٰهُ مُصۡفَرّٗا ثُمَّ يَكُونُ حُطَٰمٗاۖ وَفِي ٱلۡأٓخِرَةِ عَذَابٞ شَدِيدٞ وَمَغۡفِرَةٞ مِّنَ ٱللَّهِ وَرِضۡوَٰنٞۚ وَمَا ٱلۡحَيَوٰةُ ٱلدُّنۡيَآ إِلَّا مَتَٰعُ ٱلۡغُرُورِ  
Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. (QS Al Hadid 20)

Almarhum Ustadz Arifin Ilham usianya belum sampai separuh abad, 50 tahun. Kita pun disadarkan bahwa kematian tidak mengenal usia. Sesuatu yang datangnya pasti, tapi tidak ada yang tahu batas akhir umur masing-masing.

Perjalanan hidup di dunia sangat menentukan nasib babak perjalanan berikutnya. Masa depan kita bukanlah saat kita dewasa atau tua, karena itu sesuatu yang belum pasti. Yang Pasti adalah Kematian, menjadi masa depan kita bersama.

Saudaraku,

Janganlah kita disilaukan dengan segala macam glamour dunia; popularitas, harta dan jabatan. Kemewahan yang bila tidak hati-hati bisa menjadi tipu daya dan menggelincirkan hidup kita dari kebenaran menuju penderitaan abadi.

Rumah, kendaraan, perhiasan dan simpanan uang; bahkan anak-anak dan pasangan hidup akan kita tinggal, saat bertemu ajal menjemput masa depan. Gambaran masa depan kita, tergantung pada perbuatan apa yang kita lakukan saat ini. Berbuatlah kebaikan dalam kebenaran untuk masa depanmu.

فَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ خَيۡرٗا يَرَهُۥ ٧ وَمَن يَعۡمَلۡ مِثۡقَالَ ذَرَّةٖ شَرّٗا يَرَهُۥ ٨ 
Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula. (QS Al Zalzalah 7-8)

Allahu a'lamu bishowab

STIES Makamhaji
18 Ramadhan 1440 H

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

Tren Blog

Hadits Tentang Larangan Berbuat Zina

Hadits Tentang Shalat (Kewajiban Shalat)

Hadits Tentang Aqiqah

Hadits Tentang Khitan

Syarat Menjadi Imam Dalam Shalat Berjama'ah