Featured Post

Keluarga Bahagia dan Ikhlas Bahagia

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم Betapa banyak orang yang kesepian di tengah hiruk pikuk keramaian bukan karena tak punya keluarga, sahabat atau handai taulan. Namun kurang baiknya hubungan dengan mereka, ada jarak, sekat hati yang memisahkan karena atas nama harga diri, ego, rasa malu ataupun individualisme yang dominan di kota-kota besar. Ada orang - orang shaleh yang namanya diabadikan dalam kitab suci. Allah memuliakan keluarga Imron dan keluarga Ibrahim, demikian pula 'ayah' Luqman bersama anak-anaknya dalam nasehat kebaikan yang terbaik.

Ikhlas Berbagi Atau Bersedekah

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Banyak dari kita, menghitung angka mulai dari satu (1). Kita lupa bahwa ada satu angka yang menjadi cikal bakal dari angka-angka setelahnya, yaitu angka nol / zero (0). Matematikawan akan repot bila kehilangan angka nol. Begitupun kehidupan, nol tidak berarti kosong dan tak mengerti. Nol adalah kerendahan hati, keikhlasan dan energi besar yang bisa melahirkan karya dan manfaat besar untuk banyak orang.

Banyak yang tidak percaya kekuatan ikhlas. Ikhlas dianggap kekalahan. Ikhlas itu tulus dan menerima bukan kalah. Menerima kemuliaan dan kebaikan. Ikhlas bukan pecundang tapi pemenang. Jalan keikhlasan adalah jalan keagungan dan kesyukuran tak ada penyesalan.

Ramadhan menjadikan amal baik berlipat ganda. Salah satu amal baik itu bersedekah, berbagi. Nabi Muhammad memberikan tauladan dengan banyak bersedekah di bulan Ramadhan. Tak ada yang lebih pemurah dari Nabi.

Beliau tak pernah menyisakan satu dinar/ dirham di malam hari, karena habis dibagikan di siang hari. Beliau tak pernah menolak apa pun yang orang meminta darinya. Persediaan dapur pun sering kosong utk keluarga karena dibagikan mereka yang membutuhkan. Saat beliau wafat, tak meninggalkan warisan untuk keluarga, karena semua ditinggal untuk disedekahkan.

Ibnu Abbas menceritakan, "Rasulullah adalah orang yang paling pemurah, apalagi di bulan Ramadhan". Beliau meyakini harta kita sejatinya adalah yang kita sedekahkan / bagikan dengan ikhlas. Sementara harta yang kita tabung, simpan dan timbun justru harta yang tak bersisa, hilang.

Saudaraku,

Berbagilah dengan ikhlas, harta yang kita sedekahkan akan tumbuh subur / mendatangkan balasan berlipat dariNYA. Hidup lebih tenang, bahagia dan sejahtera. Teladanilah cara ikhlas berbagi Rasul. Sahabat Mu'awidh ibn Farra meriwayatkan; "Saya pernah mengantarkan sepiring kurma dan mentimun segar kepada Nabi, dan beliau membalas memberikan segenggam emas dan permata".

Allahu a'lamu bishowab
3 Ramadhan 1440H

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

Tren Blog

Hadits Tentang Khitan

Fadlilah Dzikir Laa Ilaaha Illallaah

Hukum Musik Dan Nyanyian Dalam Islam

Perintah Orang Tua Yang Tidak Boleh Ditaati

Shalat Sunnah Thahur

Blog Populer

Hadits Tentang Larangan Berbuat Zina

Hadits Tentang Shalat (Kewajiban Shalat)

Hadits Tentang Khitan