Mabit Di Mina

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Mabit di Mina atau Bermalam di Mina pada hari tasyrik yaitu bermalam di Mina pada hari-hari Tasyrik pada malam tanggal 11, 12 dan 13 dzulhijjah

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: اِسْتَأْذَنَ اْلعَبَّاسُ بْنُ عَبْدِ اْلمُطَّلِبِ رَسُوْلَ اللهِ ص اَنْ يَبِيْتَ بِمَكَّةَ اَيَّامَ مِنًى مِنْ اَجْلِ سِقَايَتِهِ، فَاَذِنَ لَهُ. ابن ماجه 2: 1019، رقم: 3065
Dari ‘Ibnu ‘Umar, ia berkata : ‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib meminta ijin kepada Rasulullah SAW untuk bermalam di Makkah pada hari-hari Mina karena akan memberikan minum (para haji), maka beliau mengijinkannya. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal 1019, no 3065]

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: لَمْ يُرَخّصِ النَّبِيُّ ِلاَحَدٍ يَبِيْتُ بِمَكَّةَ اِلاَّ لِلْعَبَّاسِ مِنْ اَجْلِ السّقَايَةِ. ابن ماجه 2: 1019، رقم: 3065
Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata : Nabi SAW tidak memberikan ijin kepada siapapun untuk bermalam di Makkah, kecuali kepada Abbas, karena dia akan memberikan minum. [HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1019, no. 3066]

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْن عُمَرَ اَنَّ عُمَرَ ابْنَ اْلخَطَّابِ قَالَ: لاَ يَبِيْتَنَّ اَحَدٌ مِنَ اْلحَاجّ لَيَالِيَ مِنًى وَرَاءَ اْلعَقَبَةِ. مالك فى الموطأ 1: 406
Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, bahwasanya Umar bin Khaththab berkata, “Janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian yang berhaji pada malam-malam Mina, bermalam di belakang Aqabah” [HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ juz 1, hal. 406]

سَأَلَ عَبْدُ الرَّحْمنُ بْنُ فَرُّوْخَ ابْنَ عُمَرَ قَالَ: اِنَّا نَتَبَايَعُ بِاَمْوَالِ النَّاسِ فَيَأْتِى اَحَدُنَا مَكَّةَ فَيَبِيتُ عَلَى اْلمَالِ فَقَالَ: اَمَّا رَسُوْلُ اللهِ ص فَبَاتَ بِمِنًى وَ ظَلَّ. ابو داود 2: 198، رقم: 1958
‘Abdur Rahman bin Farrukh bertanya kepada Ibnu Umar, ia berkata, “Sesungguhnya kami berjual-beli dengan harta manusia, maka seseorang dari kami ke Makkah, lalu bermalam di sana untuk menjaga hartanya (yang demikian ini bagaimana)?. Ibnu ‘Umar menjawab, “Adapun Rasulullah SAW, beliau malam dan siang di Mina”. [HR. Abu Dawud juz 2, hal. 198, no. 1958]

Boleh di Mina 2 hari atau 3 hari

وَ اذْكُرُوا اللهَ فِيْ اَيَّامٍ مَّعْدُوْدَاتٍ، فَمَنْ تَعَجَّلَ فِيْ يَوْمَيْنِ فَلاَ اِثْمَ عَلَيْهِ، وَ مَنْ تَاَخَّرَ فَلاَ اِثْمَ عَلَيْهِ لِمَنِ اتَّقى، وَاتَّقُوا اللهَ، وَ اعْلَمُوْآ اَنَّكُمْ اِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ. البقرة: 203
Dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah dalam beberapa hari yang terbilang. Barangsiapa yang ingin cepat berangkat (dari Mina) sesudah dua hari, maka tiada dosa baginya. Dan barang siapa yang ingin menangguhkan keberangkatannya dari dua hari itu), maka tidak ada dosa pula baginya bagi orang yang bertakwa. Dan bertakwalah kepada Allah, dan ketahuilah, bahwa kamu akan dikumpulkan kepada-Nya. [QS. Al-Baqarah : 203]

عَنْ بُكَيْرِ بْنِ عَطَاءٍ سَمِعْتُ عَبْدَ الرَّحْمنِ بْنَ يَعْمُرَ الدّيْلِيَّ قَالَ شَهِدْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص وَ هُوَ وَاقِفٌ بِعَرَفَةَ وَ اَتَاهُ نَاسٌ مِنْ اَهْلِ نَجْدٍ فَقَالُوْا يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَيْفَ اْلحَجُّ؟ قَالَ: اَلْحَجُّ عَرَفَةُ، فَمَنْ جَاءَ قَبْلَ صَلاَةِ اْلفَجْرِ لَيْلَةَ جَمْعٍ فَقَدْ تَمَّ حَجُّهُ، اَيَّامُ مِنًى ثَلاَثَةٌ، فَمَنْ تَعَجَّلَ فِي يَوْمَيْنِ فَلاَ اِثْمَ عَلَيْهِ، وَ مَنْ تَأَخَّرَ فَلاَ اِثْمَ عَلَيْهِ. ثُمَّ اَرْدَفَ رَجُلاً خَلْفَهُ فَجَعَلَ يُنَادِي بِهِنَّ. ابن ماجه 2: 1003، رقم: 3015
Dari Bukair bin Atha’ : Saya mendengar Abdur Rahman bin Ya’mur Ad-Diliy berkata: Aku menyaksikan Rasululah SAW pada waktu beliau wuquf di ‘Arafah lalu ada serombongan orang dari Najd datang, dan bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah berhajji itu?”. Beliau bersabda, “Hajji adalah Arafah. Maka barangsiapa yang datang sebelum shalat Shubuh pada malam Muzdalifah, sungguh ia telah sempurna hajjinya. Hari-hari Mina itu tiga hari, maka barangsiapa ingin segera meninggalkan Mina setelah dua hari, maka tidak ada dosa atasnya. Dan barangsiapa yang ingin menangguhkannya, maka tidak ada dosa atasnya. Kemudian beliau memboncengkan seorang laki-laki di belakang beliau, lalu mengumumkan hal itu”. HR. Ibnu Majah juz 2, hal. 1003, no. 3015]

Keterangan :
  1. Apabila melempar jumrah pada hari 11, 12 Dzulhijjah kemudian meninggalkan Mina disebut Nafar awal. Sedangkan apabila melempar jumrah pada hari 11, 12 dan 13 Dzulhijjah kemudian meinggalkan Mina disebut Nafar Tsani.
  2. Adapun thawaf ifadlah, bisa dilaksanakan setelah melempar jumrah Aqabah tanggal 10 Dzulhijjah, atau setelah selesai melempar jumrah Uulaa, Wustha, Aqabah pada tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah.

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

Tren Blog

Hadits Tentang Larangan Berbuat Zina

Hadits Tentang Shalat (Kewajiban Shalat)

Hadits Tentang Aqiqah

Hadits Tentang Khitan

Syarat Menjadi Imam Dalam Shalat Berjama'ah