Menunggu Pemimpin Pilpres

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم 

Renungan Dhuha

Indonesia hari - hari ini terasa tak menentu, tidak hanya rangkaian bencana yang belum berhenti, juga menunggu pemimpin yang akan berlaga di pilpres 2019. Ada yang terlihat bersemangat membangun kemanfaatan, tapi lebih banyak yang merusak kehidupan. Ada yang maju dalam industri kebaikan, tapi lebih ramai yang bergerak dalam industri kebatilan. Banyak yang bersiap investasi untuk kemajuan, namun tak kalah banyak investasi untuk kemubadziran. Inilah tanah air tercinta, Indonesia Raya. 

Dalam teori kapitalisme, kehidupan itu dijalankan untuk satu tujuan tunggal yaitu memaksimalkan keuntungan / laba. Sehingga hadir pemahaman paling primitif "business is business". Dampak terburuknya sisi psikologis dan spiritual sebagai manusia terabaikan. Inilah tiba - tiba masyarakat mendambakan sosok pemimpin dengan wajah yang lebih religius dan spiritualitas tinggi. 

Pemimpin sejati akan lahir dari pilihan masyarakat yang baik - baik dan berilmu. Kualitas pemimpin adalah cerminan kualitas rakyatnya. Imam sholat berjamaah dipilih atas dasar akhlak dan kepahaman agama yang terbaik dari mayoritas jamaah. Kebodohan kita apabila menentukan pemimpin hanya berdasar popularitas, pendidikan, kekayaan bukan pada moralitas, akhlak adab dan kapabilitasnya. 

Pemimpin harapan kita adalah mereka yang merdeka dari segala bentuk penguasaan makhluk. Hanya Allah dan rakyatnya yang menyatu dengan jiwanya. Manusia seperti ini tidak akan mau menjadi pemimpin jika tidak "didesak" untuk memimpin. 

Pemimpin impian adalah siap "nyunggi wakul". Wakul simbol kesejahteraan, menjadi pemimpin akan rela hidup sengsara dari rakyatnya karena perjuangan utamanya mensejahterakan rakyat, bukan diri, kroni atau keluarganya. 

Kriteria puncak adalah pemimpin yang seperti para nabi, yakni sang pengembala. Melayani, adil dan bijaksana. Terbuka atas nasihat dan kritik dari luar. Hati nuraninya menjadi tumpuan dalam membuat kebijakan, melindungi, menebar cinta bagi siapa saja dan membela yang benar, bukan yang bayar. Pengembala akan selalu menciptakan perdamaian, keamanan, kebersamaan dan pelayanan setia bagi masyarakat sepenuh jiwa. 

Saudaraku, semoga Allah memberikan bimbingan kepada kita untuk bisa memilih pemimpin sejati, bukan pemimpin imitasi. 

Mohon maaf apabila ada dukungan terhadap saya untuk 'cawapres' itu adalah dusta, saya masih repot dan belum baik memimpin anak istri dan para santri... (kutipan dosen Agama Islam)

Allahu a'lamu bishowab

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ