Renungan Arofah Menjelang Wukuf

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم

Kiamat

Menjelang pelaksanaan wukuf di Arofah tahun ini kembali mengguncang Lombok terjadi gempa bumi berkekuatan 7.0 scala richter (SR), pada pukul 21.56 WIB.

"Hingga hari ini telah terjadi 814 kali gempa dan 33 kali di antaranya dirasakan dengan kekuatan yang cukup besar," kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati di Jakarta, Minggu (19/8/2018).

إِذَا زُلۡزِلَتِ ٱلۡأَرۡضُ زِلۡزَالَهَا ١ وَأَخۡرَجَتِ ٱلۡأَرۡضُ أَثۡقَالَهَا ٢ 
Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya (Az Zalzalah 99:1-2)

Bacalah surah al Hajj. Awal surat Tuhan memberi ilustrasi kiamat dengan "zalzalata" yang bermakna tergelincir yang berulang-ulang. Penambahan ta' marbuthoh mengisyaratkan besarnya ketergelinciran itu. Hal ini disebabkan dengan gerakan yang sangat dahsyat atau gempa.

Kiamat itu hari akhir, namun justru awal dari kehidupan yang abadi. Kiamat ditandai dengan kehancuran dunia dan segala isinya, untuk mendapatkan bangunan yang tak pernah hancur. Kiamat adalah awal hari kebangkitan, identik dengan kehidupan yang sebenarnya. Menjemput kiamat tidak untuk mati justru untuk hidup yang sesungguhnya.

Gempa Kiamat menjadikan ibu melalaikan anaknya, keguguran perempuan yang hamil, orang terlihat mabuk padahal bukan sedang mabuk (kebingungan) dan banyak manusia yang berbantahan tentang Allah tanpa "ilmu".

Jaman hoax benar - benar menjadikan gempa intelektual, politis dan spiritual. Hidup tanpa kejernihan ilmu terlihat membuat bingung masyarakat karena miskomunikasi, disinformasi dan kedustaan di media - media sosial bermain dalam panggung - panggung politik dan kerakusan kekuasaan dan kekayaan.

Adalah Kiamat kecil, saat orang - orang mengangkat kerandaku, memasukkan liang lahat. Tempat yang amat sempit tak sebanding dengan bayang - bayang kebesaran hidupku. Meringkuk dalam kuburan ini bukanlah orang kaya lagi, bukanlah pemimpin tokoh masyarakat dan bukan pula intelektual ilmuwan ataupun ustadz kyai lagi. Baju dan atribut dunia yang harus ditinggalkan dihadapanNYA. Jiwa yang telanjang dan itulah diri kita sebenarnya, yang jarang kita sapa dan kita perhatikan.

Kiamat, menghasilkan kegoncangan jiwa, kebingungan massal dan puncaknya adalah penyesalan.
Saudaraku, hari Arofah adalah hari pengampunan, mohon ampunlah kepadaNYA sebelum Kiamat.

Ya Allah, ampunilah hambaMU yang hina, bodoh ini. Atas nikmatMU, penuh pujian dan sanjungan seringkali jiwa ini berdzikir,

"laa ilaha illa ana.... ", mempertuhankan diri sendiri, hawa nafsu.

Ya Allah ampunilah kedunguan kami. Popularitas, kesehatan, kekayaan dan kekuasaan menjadikan kami merasa besar, sombong dan riya. Betapa semua yg kami miliki itu hakekatnya milikMU. Engkau yg menciptakan. Engkau pula yg menghancurkan.

Allahu Akbar.... Allahu Akbar...
Laa ilaha illallahu Akbar...

Allahu a'lamu bishowab

سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ