Featured Post

Keluarga Bahagia dan Ikhlas Bahagia

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم Betapa banyak orang yang kesepian di tengah hiruk pikuk keramaian bukan karena tak punya keluarga, sahabat atau handai taulan. Namun kurang baiknya hubungan dengan mereka, ada jarak, sekat hati yang memisahkan karena atas nama harga diri, ego, rasa malu ataupun individualisme yang dominan di kota-kota besar. Ada orang - orang shaleh yang namanya diabadikan dalam kitab suci. Allah memuliakan keluarga Imron dan keluarga Ibrahim, demikian pula 'ayah' Luqman bersama anak-anaknya dalam nasehat kebaikan yang terbaik.

Doa Bepergian Dan Naik Kendaraan

بِسْــــــمِ اللهِ الرَّحْمَانِ الرَّحِيْم
Al-Akhlaqul Karimah

Doa Pepergian Dan Naik Kendaraan


وَ الَّذِيْ خَلَقَ اْلاَزْوَاجَ كُلَّهَا وَ جَعَلَ لَكُمْ مّنَ اْلفُلْكِ وَ اْلاَنْعَامِ مَا تَرْكَبُوْنَ. لِتَسْتَوا عَلى ظُهُوْرِه ثُمَّ تَذْكُرُوْا نِعْمَةَ رَبّكُمْ اِذَا اسْتَوَيْتُمْ عَلَيْهِ وَ تَقُوْلُوْا سُبْحَانَ الَّذِيْ سَخَّرَ لَنَا هذَا وَ مَا كُنَّا لَه مُقْرِنِيْنَ. وَ اِنَّا اِلى رَبّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ. الزحرف:12-14
Dan yang menciptakan semua yang berpasang-pasangan dan menjadikan untukmu kapal dan binatang ternak yang kamu tunggangi. Supaya kamu duduk di atas punggungnya, kemudian kamu ingat nikmat Tuhanmu apabila kamu telah duduk di atasnya, dan supaya kamu mengucapkan, “Maha Suci Tuhan yang telah menundukkan semua ini bagi kami, padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami”. [QS. Az-Zukhruf : 12-14]

عَنْ اْلبَرَاءِ بْنِ عَازِبٍ اَنَّ النَّبِيَّ ص كَانَ اِذَا قَدِمَ مِنْ سَفَرٍ قَالَ: آئِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبّنَا حَامِدُوْنَ. الترمذى 5: 161 حديث حسن صحيح
Dari Baraa’ bin ‘Aazib, bahwasanya Nabi SAW apabila kembali dari bepergian beliau berdoa, “Aaibuuna taa-ibuuna ‘aabiduuna lirobbinaa haamiduun” (Kami kembali, kami bertaubat, kami beribadat dan kepada Tuhan kami, kami memuji). [HR. Tirmidzi juz 5, hal. 161, hadits hasan shahih]


اَنَّ بْنَ عُمَرَ عَلَّمَهُمْ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص كَانَ اِذَا اسْتَوَى عَلَى بَعِيْرِهِ خَارِجًا اِلَى سَفَرٍ كَبَّرَ ثَلاَثًا ثُمَّ قَالَ: سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هذَا وَ مَا كُنَّا لَه مُقْرِنِيْنَ وَ اِنَّا اِلَى رَبّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ. اَللّهُمَّ اِنَّا نَسْأَلُكَ فِى سَفَرِنَا هذَا اْلبِرَّ وَ التَّقْوَى وَ مِنَ اْلعَمَلِ مَا تَرْضَى، اَللّهُمَّ هَوّنْ عَلَيْنَا سَفَرَنَا هذَا وَاطْوِ عَنَّا بُعْدَهُ، اَللّهُمَّ اَنْتَ الصَّاحِبُ فِى السَّفَرِ وَ اْلخَلِيْفَةُ فِى اْلاَهْلِ، اَللّهُمَّ اِنّى اَعُوْذُ بِكَ مِنْ وَعْثَاءِ السَّفَرِ وَ كَآبَةِ اْلمَنْظَرِ وَ سُوْءِ اْلمُنْقَلَبِ فِى اْلمَالِ وَ اْلاَهْلِ. وَ اِذَا رَجَعَ قَالَهُنَّ وَ زَادَ فِيْهِنَّ: آيِبُوْنَ تَائِبُوْنَ عَابِدُوْنَ لِرَبّنَا حَامِدُوْنَ. مسلم 2: 978
Sesungguhnya Ibnu ‘Umar mengajarkan kepada orang-orang (ia berkata) : Adalah Rasulullah SAW apabila telah berada di atas untanya akan bepergian beliau bertakbir tiga kali, lalu berdoa,”Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadzaa wa maa kunnaa lahuu muqriniina wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun. Alloohumma innaa nas-aluka fii safarinaa haadzal birro wat taqwaa, wa minal ‘amali maa tardloo. Alloohumma hawwin ‘alainaa safaronaa haadzaa wathwi ‘annaa bu’dahu. Alloohumma antash shoohibu fis safari wal kholiifatu fil ahli. Alloohumma innii a’uudzu bika min wa’tsaa-is safari wa kaabatil mandhori, wa suu-il munqolabi fil maali wal ahli (Maha suci Allah yang telah menundukkan semua ini bagi kami padahal kami sebelumnya tidak mampu menguasainya. Dan sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Ya Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu dalam perjalanan kami ini kebaikan, taqwa dan amal yang Engkau ridlai. Ya Allah, berikanlah kemudahan kepada kami dalam perjalanan kami ini, dan dekatkanlah bagi kami jauhnya perjalanan. Ya Allah, Engkaulah yang bersama kami dalam perjalanan dan yang memelihara keluarga yang ditinggal. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kesulitan perjalanan dan dari pandangan yang menyedihkan dan tempat kembali yang tidak menyenangkan pada harta dan keluarga). Apabila beliau kembali, beliau membaca seperti itu pula dan beliau menambahkan “Aayibuuna taaibuuna ‘aabiduuna lirobbinaa haamiduun” (Kami kembali, kami bertaubat, kami beribadat dan kepada Tuhan kami, kami memuji). [HR. Muslim juz 2, hal. 978]

عَنْ عَلِيِ بْنِ رَبِيْعَةَ قَالَ: شَهِدْتُ عَلِيًّا اُتِيَ بِالدَّابَّةِ لِيَرْكَبَهَا. فَلَمَّا وَضَعَ رِجْلَهُ فِى الرّكَابِ قَالَ: بِسْمِ اللهِ، فَلَمَّا اسْتَوَى عَلَى ظَهْرِهَا قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ، ثُمَّ قَالَ: سُبْحَانَ الَّذِى سَخَّرَ لَنَا هذَا وَ مَا كُنَّا لَه مُقْرِنِيْنَ وَ اِنَّا اِلى رَبّنَا لَمُنْقَلِبُوْنَ. ثُمَّ قَالَ: اَلْحَمْدُ ِللهِ ثَلاَثًا، اَللهُ اَكْبَرُ ثَلاَثًا، سُبْحَانَكَ اِنّى قَدْ ظَلَمْتُ نَفْسِى فَاغْفِرْلِى فَاِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ اِلاَّ اَنْتَ، ثُمَّ ضَحِكَ. فَقُلْتُ: مِنْ أَيّ شَيْءٍ ضَحِكْتَ يَا اَمِيْرَ اْلمُؤْمِنِيْنَ؟ قَالَ: رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص صَنَعَ كَمَا صَنَعْتُ ثُمَّ ضَحِكَ. فَقُلْتُ: مِنْ أَيّ شَيْءٍ ضَحِكْتَ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: اِنَّ رَبَّكَ لَيَعْجَبُ مِنْ عَبْدِهِ اِذَا قَالَ: رَبّ اغْفِرْلِى ذُنُوْبِى اِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ غَيْرُكَ. الترمذى 5: 164، حديث حسن صحيح
Dari ‘Ali bin Rabi’ah, ia berkata : Aku menyaksikan ‘Ali, sewaktu didatangkan kendaraan untuk dinaikinya. Maka ketika ia meletakkan kakinya di pijakan, ia membaca “Bismillaah” (Dengan nama Allah). Setelah diatas kendaraan, ia membaca “Al-hamdu lillaah” (Segala puji bagi Allah). Kemudian setelah itu ia berdoa, “Subhaanalladzii sakhkhoro lanaa haadzaa wamaa kunnaa lahuu muqriniina wa innaa ilaa robbinaa lamunqolibuun” (Maha suci Allah yang telah menundukkan bagi kami semua ini, padahal sebelumnya kami tidak mampu menguasainya, dan sesungguhnya kepada Tuhan kami, kami akan kembali). Kemudian ia mengucap Al-hamdu lillaah X 3, Allaahu Akbar X 3. Kemudian ia membaca “Subhaanaka innii qod dholamtu nafsii faghfirlii, fainnahuu laa yaghfirudz-dzunuuba illaa anta” (Maha suci Engkau ya Tuhan, sesungguhnya aku telah berbuat aniaya terhadap diriku, maka ampunilah aku, karena sesungguhnya tidak ada yang dapat mengampuni dosa kecuali Engkau). Kemudian ia tertawa. Maka aku bertanya, “Kenapa engkau tertawa wahai amirul mukminin?”. Ia menjawab, “Aku melihat Rasulullah SAW berbuat sebagaimana yang aku lakukan tadi, kemudian beliau tertawa. Maka aku bertanya, “Kenapa engkau tertawa wahai Rasulullah?”. Beliau menjawab, “Sesungguhnya Tuhanmu amat senang kepada hamba-Nya apabila mengucapkan (Wahai Tuhanku ampunilah aku, karena tidak ada yang dapat mengampuni dosa selain Engkau)”. [HR. Tirmidzi juz 5, hal. 164, hadits hasan shahih]



سُبْحَانَكَ اللّهُمَّ وَ بِحَمْدِكَ اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اَنْتَ اَسْتَغْفِرُكَ وَ اَتُوْبُ اِلَيْكَ

Tren Blog

Hadits Tentang Khitan

Hadits Tentang Larangan Berbuat Zina

Perintah Orang Tua Yang Tidak Boleh Ditaati

Fadlilah Dzikir Laa Ilaaha Illallaah

Shalat Sunnah Intidhar

Blog Populer

Hadits Tentang Larangan Berbuat Zina

Hadits Tentang Shalat (Kewajiban Shalat)

Hadits Tentang Khitan